Showing posts with label seni. Show all posts
Showing posts with label seni. Show all posts

Thursday, December 14, 2006

kemarin adalah kenangan, hari ini adalah kenyataan dan esok sebuah angan

Kemarin adalah kenangan, hari ini adalah kenyataan, esok adalah angan. Inilah kalimat pembuka dari teater "emiritus". Sebuah cerita tentang para pembunuh gelap yang identitasnya sudah dianggap telah tiada. Mungkin sejenis secret service macam james bond 007. Mereka sedang menginterograsi seorang aktivis yang ternyata tetap pada 2 jam terakhir tidak mau mengatakan siapa yang memerintahkan dia. Kalau pernah baca cerita saman larungnya ayu utami, pasti kita akan ingat adegan tim mawar yang menyiksa aktivis dan tim mawar tersebut juga mengatakan hal yang sama bahwa sebenarnya mereka tidak mau melakukan ini semua, ini adalah perintah atasan bahkan ketika harus membunuhpun. Jadi ingat dengan peringatan HAM kemarin dimana ada beberapa potongan film tentang penculikan aktivis. Ngomong-ngomong tentang aktivis, harusnya kalau mereka memang aktivis yang jago, mereka harusnya tidak bisa ditangkap, seperti halnya seorang danlap, pantang hukumnya untuk ditangkap karena seorang danlap harus amata sangat mengetahui posisi medan perang. Begitu juga dengan pasukan khusus-pasukan khusus yang mempunyai teknik meloloskan diri yang baik. Bekerja tidak terlihat tapi efek hancurnya besar.

Cerita bergulir dengan pertanyaan apakah surga dan neraka itu ada, apakah ketakutan akan kematian itu penting, apakah tuhan itu ada. Sang aktivis pun tiba-tiba berkata bahwa tuhan itu ada ketika manusia memuliakannya. Dengan berbuat seperti apa yang dimaui tuhan maka dengan sendirinya surga itupun ada dibelakang kita. Menarik .. karena ternyata manusialah yang menentukan tuhan itu ada atau tidak bukan tuhan yang menetapkan dia ada atau tidak. Jadi apakah tuhan hanya rekaan manusia, dan ketika rekaan itu tiada maka tuhan akan turut tiada pula.

Akhir cerita, aktivis tetap tidak mau menjawab hingga pada akhirnya si penculik sedikit berbelas kasian dengan mau mengantarkannya pulang jika ia mau membuka mulut. Waktu sudah habis, mental si aktivis mulai lemah, akhirnya ia menceritakan semuanya bahwa dia adalah aktivis dgn ip tinggi yang mesti melakukan itu semua demi mendapatkan karir politiknya nanti atas jaminan hari tua tapi ia tidak beruntung karena ia tetap harus mati juga.

Ngomong-ngomong soal idealisme, memang benar ternyata idealisme itu fungsi waktu. Ia suatu ketika akan mengikuti trend karena selamanya ia tidak akan mampu menahas arus. Tapi tidak ada salahnya memiliki idealisme, bahkan harus, jika idealisme kita pada awalnya sudah tinggi paling tidak ketika fungsi waktu itu berjalan maka idealisme itu tidak sangat turun posisinya. Ya itulah harga yang harus dibayar atas sebuah idealisme, bagaimana dengan kita, idealisme apakah yang kita tetap pegang sampai saat ini dan patut untuk diperjuangkan .