Thursday, December 6, 2007

sudahlah

Kadang kita tidak pernah tahu dengan siapa kita bertemu hari ini, pun kita tidak pernah tahu apakah dalam pertemuan itu akan terjadi rasa senang atau sedih. Semesta terlalu kompleks dan besar untuk menjawab semua itu. Masa depan terlalu rumit untuk diperkirakan. Pikiran dewa saja bisa meleset. Ada sebab ada akibat. Hanya para buddha katanya yang mampu mengurai benang sebab dan akibat tersebut sehingga manusia mampu mengetahui dimana ia harus berbuat. Tapi tetap manusia tidak bisa mempermainkan semesta meskipun mampu menjadi buddha.

Ada pilihan-pilihan yang kadang sudah ditentukan. kadang manusia dihadapkan pada kenyataan yang tidak bisa memilih, kadang pilihan2 itu sendiri terlalu terbatas. Pilihan2 itu juga kadang membatasi hidup kita. Tapi apakah benar kita tidak mampu memilih dan menjadi terbatasi. Laut dikejauhan tampak datar, pikiran manusialah yang membatasi itu semua, sehingga menjadikannya itu sebagai suatu penderitaan. Kenapa harus dibatasi, karena memang itulah ukuran yang tepat bagi seorang manusia. Semua sistem didunia ini pasti memiliki kondisi optimal dimana disanalah keseimbangan itu terjadi, begitu juga kehidupan manusia. Tidak semua keinginan dapat diwujudkan, bukannya tidak mungkin diwujudkan tapi yang tidak sesuai dengan takaran pasti memerlukan harga tambahan yang harus dibayar dan berimplikasi pada hilangnya keseimbangan yang lainnya. Begitu juga dengan setiap milidetik kehidupan manusia. Jika kita bisa tahu batas kemampuan kita dan tahu seberapa besar yg seharusnya kita tanggung maka dengan mengoptimalkan itu kita tidak akan mengganggu keseimbangan yang lainnya. Seperti halnya hukum alam, seekor singa hanya akan makan 1 ekor kijang setiap minggu, dia tidak akan makan berlebih karena dia tahu eksistensitasnya akan terganggu jika dia mengganggu yang lainnya.

manusia juga mengalami hal yang sama, jika kita berbuat sesuatu melebihi kapasitas kita maka akan terjadi gangguan pada keseimbangan yang lain. Makanya itu ada analogi bahwa hidup manusia itu harusnya seperti aliran sungai, aliran sungai bisa saja buat aliran baru, tapi ada effort yg harus dikeluarkan meskipun pada ujung-ujung nya adalah sebuah muara. Jadi kemanakah muara manusia, kematiankah? ternyata bukan, muara hidup manusia adalah bersatu dengan alam, manusia diciptakan dari energi dan kembali menjadi energi berbaur dengan alam semesta, kita adalah semesta, keberadaan kita menentukan keberadaan yang lain, apa yg kita alami akan berhubungan dengan apa yg orang lain alami, jadi jalankan saja peran itu sebaik-baiknya karena peran itu tidak akan membosankan. Yakinlah kita tidak akan sendiri, kesendirian yang kita rasakan adalah hasil berbagi dengan kesendirian yang orang lain rasakan.

1 comment:

iman brotoseno said...

sayangnya masih kurang apresiasi di sini mengenai film dokumenter...